monggoo...wani piroo

Sunday, June 19, 2011

API DUNIA DAN API NERAKA

Sifat-Sifat Api Neraka

11 Maret 2011
(Transkrip Ceramah AQI 110509)

SIFAT-SIFAT API NERAKA
Oleh:  Ust. Achmad  Rofi’i, Lc.

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Bahasan kali ini adalah melanjutkan bahasan pekan lalu berkenaan dengan Api Neraka, boleh juga disebut dengan: Beberapa Perkara yang harus kita ketahui tentang Api Neraka.
Pada pertemuan lalu, sudah disinggung sedikit berkenaan dengan Api Neraka dan kali ini akan kita tambahkan bahasan mengenainya. Juga dibawah ini insya Allooh akan dibahas tentang Hikmah diciptakannya api di dunia dan diciptakannya api di Akhirat oleh Allooh سبحانه وتعالى.
Kalau kita rinci, diciptakannya api dunia dan api Akhirat oleh Allooh سبحانه وتعالى itu adalah tidak sia-sia. Semua ada hikmah dan pelajarannya yang harus kita ambil, bahkan pelajarannya sangat lah penting.
Adapun tentang api dunia, maka Allooh سبحانه وتعالى ciptakan api di dunia dalam bentuk apapun itu minimal ada 4 perkara :
  1. Api yang biasa kita gunakan untuk keperluan sehari-hari, misalnya untuk memasak makanan, untuk membakar sesuatu, dan sebagainya. Oleh karenanya, api itu adalah penting sekali bagi kehidupan manusia.
  2. Api yang bisa digunakan sebagai pembunuh penyakit. Dengan dibakar atau disorot memakai sinar, maka beberapa jenis kuman, bakteri ataupun virus penyakit akan menjadi musnah.
  3. Api yang bisa difungsikan sebagai penghangat. Apabia kita sedang berada di daerah dingin, atau di pegunungan, maka api itu bisa dimanfaatkan untuk menghangatkan suasana.
  4. Api yang bisa dipergunakan untuk keperluan yang lebih besar lagi bagi manusia yaitu didalam meraih keuntungan dan untuk usaha, seperti api yang digunakan dalam perindustrian. Dipakainya api untuk membakar besi, plastik, kayu dan sebagainya. Itu semua adalah salah satu manfaat api yang diciptakan oleh Allooh سبحانه وتعالى untuk manusia.
Hanya saja sedikit orang yang belajar dari api. Mungkin seseorang setiap harinya bergelut dengan pekerjaan Las, tetapi belum tentu ia belajar dari api. Maka dengan ini, marilah kita jernihkan hati dan pikiran kita untuk memikirkan makhluk Allooh سبحانه وتعالى yang satu ini yaitu api. Sebagaimana kita ketahui api dunia hanyalah satu-per-tujuhpuluh (1/70) dari api yang ada di Akhirat.

Api itu sangat bermanfaat. Tidak ada yang mengingkari manfaat api dunia. Yang penting adalah bagaimana agar api dunia itu bisa menjadi pengingat bagi diri kita, bahwa kita harus berusaha agar terhindarkan dari api Akhirat.
Dalam Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 5081, dari Shohabat Muslim bin Al Haarits At Tamiimy رضي الله عنه, ada salah satu tuntunan do’a dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Kita diajarkan untuk senantiasa berdo’a kepada Allooh سبحانه وتعالى agar memohon perlindungan dan memohon untuk dihindarkan dari Api Neraka. Bahkan setiap ba’da sholat, terutama ba’da sholat Maghrib dan sholat Shubuh, kita diajarkan untuk selalu berdo’a dengan suara rendah :
إِذَا انْصَرَفْتَ مِنْ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ فَقُلِ اللَّهُمَّ أَجِرْنِى مِنَ النَّارِ
“Alloohumma ajirna (ajirnii) minannaar.”
(Ya Allooh hindarkan kami (aku) dari api neraka).
Itu adalah api yang ada setelah dunia ini musnah (hari Kiamat).
Manusia juga harus belajar bahwa api dunia ini sejak zaman dahulu sudah diciptakan dan digunakan oleh para Nabi, misalnya Nabi Sulaiman عليه السلام, seperti disebutkan dalam QS. Surat Saba’ (34) ayat 12 :
وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ وَمِنَ الْجِنِّ مَن يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَمَن يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ

Artinya:
“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari Jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Robb-nya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya adzab neraka yang apinya menyala-nyala.”
Kita kenal bahwa tembaga adalah benda padat, yang akan menjadi cair ketika ia dibakar. Itu membuktikan bahwa api sudah digunakan manusia sejak zaman dahulu kala dan dalam ayat diatas dijelaskan bahwa Nabi Sulaiman عليه السلام telah menggunakannya.
Adapun Api dari Akhirat tidak kurang dari 3 perkara yang sangat penting, yaitu :
  1. Api yang Allooh سبحانه وتعالى ciptakan di Akhirat itu merupakan Kebesaran dan Kekuasaan Allooh سبحانه وتعالى. Bayangkan, api di dunia ini hanyalah sepertujuhpuluh bagian dari Api Neraka. Artinya panas api di Akhirat adalah tujuhpuluh kali lipat dari panas api di dunia. Betapa panasnya. Kalau itu bukan dalil atas Kebesaran dan Kekuasaan Allooh سبحانه وتعالى, maka apa lagi ? Dan hal ini menunjukkan bahwa Allooh سبحانه وتعالى itu Maha Kuasa, dan tidaklah patut bagi manusia untuk bersikap sombong serta membantah, melawan ataupun menantang kepada-Nya. Maka kita tidak boleh sombong kepada Allooh سبحانه وتعالى yang telah menciptakan api untuk membakar siapa saja yang sombong serta menentang-Nya.
  1. Api Akhirat juga sekaligus merupakan  ancaman bagi orang kaafir dan orang yang berma’shiyat kepada Allooh سبحانه وتعالى. Allooh سبحانه وتعالى menyebutkan dalam beratus-ratus ayat Al Qur’an untuk memberikan peringatan dan ancaman sekaligus  kepada mereka, orang-orang yang hatinya ber-iman agar mereka itu takut kepada Allooh سبحانه وتعالى. Bahwa Dia lah Allooh yang menciptakan dan memiliki Api Neraka. Orang yang beriman akan takut dengan ancaman api Neraka yang telah diberitakan oleh Allooh سبحانه وتعالى tersebut. Tetapi orang yang tidak beriman maka mereka tidak akan tersentuh hatinya dan tidak pula merasa terancam, karena memang tidak ada iman didalam hatinya.
  1. 3. Bahwa Api Akhirat sesungguhnya merupakan siksa Allooh سبحانه وتعالى bagi siapa yang tidak mau beriman dan menentang-Nya.
Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 3265, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
نَارُكُمْ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً قَالَ فُضِّلَتْ عَلَيْهِنَّ بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا كُلُّهُنَّ مِثْلُ حَرِّهَا
“Api kalian (api dunia) hanyalah sepertujuh-puluh dari api Jahannam.”
Maka para sahabat berkata:  “Sepertujuh puluh itu sudah cukup, ya Rosuulullooh.”
Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Neraka Jahannam itu dilipatkan darinya 69 kali, semuanya seperti panasnya (api dunia).”
Dalam Hadits shohiih yang lain, dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Api dunia ini sudah Allooh pukul-pukulkan (dinginkan), sudah Allooh tenggelamkan ke dalam air laut sebanyak tujuh kali. Kalau saja tidak dilakukan seperti itu, maka manusia tidak akan bisa memanfaatkan api”.

DALIL-DALIL TENTANG IDENTITAS NERAKA
Nama lain dari Neraka, Allooh سبحانه وتعالى memberitakan kepada kita tidak kurang dari lima nama, yaitu: An Naar (Neraka). Dalilnya adalah Al Qur’an surat Fushshilat ayat 19,  surat Az-zumar ayat 16 dan surat Ghofir (Al Mu’min) ayat 47.
1. Disebut An Naar
Lihat QS. Fushilat (41) ayat 19 :
وَيَوْمَ يُحْشَرُ أَعْدَاء اللَّهِ إِلَى النَّارِ فَهُمْ يُوزَعُونَ
Artinya:
“Dan (ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allooh digiring ke dalam Neraka lalu mereka dikumpulkan (semuanya).”

Dan QS. Az Zumar (39) ayat 16 :
لَهُم مِّن فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِّنَ النَّارِ وَمِن تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ذَلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ
Artinya:
“Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allooh mempertakuti hamba-hambanya dengan adzab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku, hai hamba-hamba-Ku.”
Juga QS. Ghofir (Al Mu’min) (40) ayat 47 :
وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاء لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعاً فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا نَصِيباً مِّنَ النَّارِ

Artinya:
“Dan (ingatlah) ketika mereka berbantah-bantah  dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian adzab api neraka?”

Dalam ayat-ayat tersebut Allooh سبحانه وتعالى menggunakan kata “An Naar” (Api Neraka), jadi An Naar adalah nama lain dari Neraka.
2.  Jahannam
Nama tersebut dalam Al Qur’an tidak kurang dari 75 kali disebut. Jahannam adalah kata lain dari Neraka. Menurut para ‘Ulama, makna kata  “Jahananam” adalah: “Dasar yang sangat dalam.” Maksudnya, dasar dari Neraka disebut Jahannam. Dan itu sekaligus menggambarkan sifat bahwa Api Neraka atau Jahannam itu sangat dalam.

Perhatikan firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al-Baiyyinah (98) ayat  6 :
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang kaafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.”

3. Huthomah
Misalnya dalam QS. Humazah (104) ayat 4:

كَلَّا لَيُنبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ
Artinya:
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthomah.”

Huthomah artinya sangat dahsyat, apabila orang masuk ke dalam api Huthomah akan hancur lebur, berkeping-keping, berserakan. Maka Neraka disebut Huthomah, karena bila manusia dimasukkan ke dalamnya, maka ia akan tercabik-cabik dan hancur lebur.
4.  As Sa’iir (Neraka Sa’iir)
Ada 14 kali disebutkan dalam Al Qur’an, antara lain dalam QS. Asy-Syuuroo (42) ayat 7:
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ قُرْآناً عَرَبِيّاً لِّتُنذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيهِ فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ
Artinya:
“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Quro (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (Kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Neraka Sa’iir.”
5.  Saqor (Neraka Saqor).
Dalam Al Qur’an disebutkan 4 kali. Misalnya dalam QS. Al Muddatstsir (74) ayat 42:
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ
Artinya:
“Apa yang menyebabkan kamu dimasukkan ke dalam Saqor (Neraka)?”

Menurut para ‘Ulama, disebut sebagai Saqor, karena di dalam Neraka itu terdapat besi-besi-besi panas yang sangat membakar dan semuanya itu akan menghimpit (menindas) seperti seterika bagi mereka yang masuk ke dalamnya.
6.  Ladzoo (Neraka Ladzoo).
Dalam QS. Al Ma’aarij (70) ayat 15 dan 16 :
كَلَّا إِنَّهَا لَظَى ﴿١٥﴾ نَزَّاعَةً لِّلشَّوَى ﴿١٦
Artinya:
“Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya Ladzo itu adalah api (Neraka) yang bergejolak.
Yang mengelupaskan kulit kepala.”

Lalu dalam QS. Al Lail (92) ayat 14 :
فَأَنذَرْتُكُمْ نَاراً تَلَظَّى
Artinya:
“Maka Kami memperingatkan kamu dengan Neraka Ladzo yang apinya menyala-nyala.”

Itulah beberapa dalil yang diberitahukan kepada kita bahwa Neraka itu tidak hanya mempunai satu nama, bahkan disebut dengan “Ladzo” (Lidah Api), karena berupa Api Neraka yang akan menjilat-jilat, menyambar dengan panas sekali bagi orang-orang yang masuk ke dalam neraka. Na’uudzubillaahi min dzaalik !
Itulah nama-nama lain dari Neraka, dan bukan menunjukkan tentang derajatnya neraka.
PINTU-PINTU NERAKA
Yang disebutkan dalam Al Qur’an ada 7 (tujuh), yaitu :
Dalam Surat Al Hijr (15) ayat 44 :
لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ لِّكُلِّ بَابٍ مِّنْهُمْ جُزْءٌ مَّقْسُومٌ
Artinya:
“Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan tertentu dari mereka.”

Menurut para ulama ahli Tafsir bahwa setiap pintu mempunyai jarak yang tertentu, bahkan dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه dan para Salaful Ummah bahwa jarak antara pintu yang satu dengan pintu yang lainnya itu sangat jauh, yang menunjukkan bahwa neraka itu akan menampung sekian banyak manusia.
Gambaran tentang sifat-sifat yang Allooh سبحانه وتعالى berikan kepada api Neraka.
Ada beberapa sifat dari Neraka dan ini harus kita imani karena semua berdasarkan dalil dari Al Qur’an maupun Hadits-Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Pemahaman tentang ‘Aqiidah adalah terpaku kepada Al Qur’an dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan tidak boleh ada ro’yu (akal), kecuali yang sudah dijelaskan oleh para ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah.
Ternyata api Neraka bisa melihat (punya mata). Dalam Hadits shohiih Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2574, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :
تخرج عنق من النار يوم القيامة لها عينان تبصران وأذنان تسمعان ولسان ينطق يقول إني وكلت بثلاثة بكل جبار عنيد وبكل من دعا مع الله إلها آخر وبالمصورين

Artinya:
“Akan keluar pada hari Kiamat leher dari api neraka, ia memiliki dua mata, dan melihat, memiliki telinga dan mendengar dan memiliki lidah, lalu berbicara: ‘Sesungguhnya aku (api neraka) diciptakan oleh Allooh سبحانه وتعالى untuk menyiksa tiga golongan manusia, yaitu orang yang sangat kejam, sangat angkuh dan menolak kebenaran. Kedua, manusia yang menyeru dan berdo’a kepada selain Allooh سبحانه وتعالى. Ketiga, Manusia yang menggambar (melukis).”

Menurut keterangan para ‘Ulama Ahlus Sunnah, yang dimaksud menggambar dalam Hadits tersebut adalah melukis makhluk yang bernyawa (seperti: manusia, hewan). Sementara menggambar pemandangan alam adalah tidak mengapa.
Berkenaan dengan fotografi, para ‘Ulama Ahlus Sunnah berkata bahwa fotografi boleh untuk perkara yang dhorurot (darurat), sepertu foto untuk paspor, KTP, dan sejenisnya.  Adapun fotografi yang bersifat kenangan, misalnya foto-foto ketika berhaji, umroh dan sejenisnya adalah hukumnya harom.
Maka dari Hadits diatas dapatlah diambil pelajaran bahwa yang akan “disantap” oleh api Neraka, salah satu atau dari ketiga-tiganya, adalah :
  1. Orang yang kejam, angkuh (sombong),  dan menolak kebenaran dari Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم.
  2. 2. Manusia yang menyeru dan berdoa, memohon pertolongan kepada selain Allooh سبحانه وتعالى,
  3. Manusia yang suka menggambar (melukis) makhluk hidup.
Dalam QS. Al Furqoon (25) ayat 12 :
إِذَا رَأَتْهُم مِّن مَّكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظاً وَزَفِيراً
Artinya:
“Apabila Neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya.”
Sebagaimana dijelaskan oleh Imaam As Suddy رحمه الله bahwa suara api Neraka itu sudah terdengar, “Dari sejarak seratus tahun.”
قال السدي: من مسيرة مائة عام
Maksudnya, bahwa Neraka melihat siapa yang akan disiksanya (disantapnya). Dan itu terjadi sejak di awal hari Kiamat.“Dari tempat yang jauh” ditafsirkan oleh para ‘Ulama Ahlus Sunnah adalah sejarak seratus tahun. Artinya sejak sejarak seratus tahun sebelumnya, Neraka itu sudah melihat siapa yang akan dibakarnya. Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang “terdeteksi” oleh api neraka, karena kita tidak ingin menjadi warganya. Na’uudzubillaahi min dzaalik !
Dan Hadits shohiih yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
Artinya:
“Barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, maka bersiaplah dengan tempat duduknya di Neraka.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 110 dan Imaam Muslim no: 4)
Juga dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Al Mughiroh bin Syu’bah رضي الله عنه, ia berkata, “Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
Artinya:
“Sesungguhnya, berdusta atas namaku tidaklah seperti berdusta atas nama orang lain, barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, maka bersiaplah dengan tempat duduknya di dalam api Neraka.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 5)
Dalam Hadits Imaam Ath Thobrony dalam Kitab Al Mu’jam Al Kabiir no: 7479, dari Shohabat Abu Umamah رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :
“مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ بَيْنِ عَيْنَيْ جَهَنَّمَ”فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى أَصْحَابِهِ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، نُحَدِّثُ عَنْكَ بِالْحَدِيثِ نَزِيدُ وَنُنْقِصُ، قَالَ:”لَيْسَ ذَا أَعْنِيكُمْ إِنَّمَا أَعْنِي الَّذِي يَكْذِبُ عَلَيَّ مُتَحَدِّثًا، يَطْلُبُ بِهِ شَيْنَ الإِسْلامِ”، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ قُلْتَ: بَيْنَ عَيْنَيْ جَهَنَّمَ، وَهَلْ لِجَهَنَّمَ عَيْنٌ؟ قَالَ:”نَعَمْ، أَمَا سَمِعْتُهُ يَقُولُ: “إِذَا رَأَتْهُمْ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا” [الفرقان: 12] فَهَلْ تَرَاهُمْ إِلا بِعَيْنَيْنِ؟
Artinya:
“Barangsiapa yang berdusta atas namaku maka bersiaplah tempat duduknya diantara dua mata Jahannam”.
Yang demikian itu dirasakan berat oleh para Shohabat sehingga mereka mengatakan, “Ya Rosuulullooh, kami meriwayatkan dari engkau dengan menambah dan mengurang.”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Bukan itu yang kumaksud, melainkan orang yang memalsukan atas namaku sehingga menyebabkan tercorengnya Islam.”
Shohabat berkata lagi, “Ya Rosuulullooh, engkau mengatakan bahwa Jahannam mempunyai dua mata.”
Mereka bertanya : “Ya Rosuulullooh, apakah Jahannam  mempunyai mata?”. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab: “Ya, apakah kalian tidak mendengar bahwa Allooh سبحانه وتعالى berfirman (seperti QS. Al Furqoon (25) ayat 12): “Apabila Neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya”, maka kalian tahu bahwa Jahannam itu melihat”.
Imaam Al Qurthuby رحمه الله berkata tentang Sanad Hadits ini: “Hadits ini disebutkan oleh Roziin dalam Kitabnya dan dishohiihkan oleh Ibnul ‘Arobi dalam Qobas-nya dan Imaam At Turmudzy meriwayatkannya dari Hadits Abu Hurairoh, dan beliau mengatakan bahwa Hadits ini Hasan Ghorib Shohiih.” (Lihat Tafsiir Al Qurthuby 13/8)
Atas dasar ayat Al Qur’an dan Hadits tersebut diatas, maka kita harus meyakini bahwa Api Neraka bisa melihat.
Al Imaam Asy Syaukaani رحمه الله, beliau mengatakan: “Tidaklah mustahil Allooh سبحانه وتعالى menjadikan api neraka itu memiliki kemampuan untuk melihat”.

Asy Syaikh Dr. ‘Abdullooh bin ‘Umar asy- Syingqiity dalam kitab beliau berjudul Adhwaa’ul Bayaan, mengatakan : “Ketahuilah olehmu sesungguhnya api neraka itu melihat orang-orang kaafir pada hari Kiamat. Dengan demikian api neraka itu bisa melihat siapa yang akan disiksa dan disantapnya.”
Api Neraka disamping melihat, juga bisa dilihat. Berdasarkan dalil, kita pun manusia juga akan bisa melihat neraka.
Firman Allooh سبحانه وتعالى dalam  QS. Al An’aam (6) ayat 27 :
وَلَوْ تَرَىَ إِذْ وُقِفُواْ عَلَى النَّارِ فَقَالُواْ يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلاَ نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya:
“Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke Neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Robb kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan.”

Maksudnya, orang-orang kaafir menyesali kekufuran mereka dan mereka berangan-angan bisa kembali di dunia. Tetapi apa daya yang mereka angan-angankan ketika itu tidak akan terjadi.
Dalam QS. Al Kahfi (18) ayat 53 :
وَرَأَى الْمُجْرِمُونَ النَّارَ فَظَنُّوا أَنَّهُم مُّوَاقِعُوهَا وَلَمْ يَجِدُوا عَنْهَا مَصْرِفاً
Artinya:
“Dan orang-orang yang berdosa melihat Neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari padanya.”

Jadi Api Neraka itu selain bisa melihat, juga bisa dilihat.
Dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 241, dari Shohabat ‘Abdullooh bin Abbas رضي الله عنه, beliau berkata, “Telah terjadi gerhana matahari, sehingga Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم melakukan Sholat Gerhana (Sholat Khusuf), kemudian beliau صلى الله عليه وسلم bersabda:
رأيت النار فلم أر منظر كاليوم قط أفظع
Artinya:
“Aku melihat Neraka dan tidak ada satu pemandangan yang lebih buruk daripada yang kulihat hari ini”.
Ayat Al Qur’an dan Hadits tersebut diatas menjelaskan kepada kita bahwa Api Neraka akan bisa dilihat bukan saja oleh orang kaafir tetapi juga oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Hadits Riwayat Imaam Abu Ya’la no: 1145 dan Hadits ini para perowinya terpercaya seperti dikatakan oleh Syaikh Husein Salim Asad, dari Shohabat Abu Saa’id Al Khudry رضي الله عنه, bahwa beliau mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
إذا جمع الله الناس في صعيد واحد يوم القيامة أقبلت النار يركب بعضها بعضا وخزنتها يكفونها وهي تقول : وعزة ربي ليخلين بيني وبين أزواجي أو لأغشين الناس عنقا واحدا فيقولون : ومن أزواجك ؟ فتقول : كل متكبر جبار فتخرج لسانها فتلتقطهم به من بين ظهراني الناس فتقذفهم في جوفها ثم تستأخر ثم تقبل يركب بعضها بعضا وخزنتها يكفونها وهي تقول : وعزة ربي ليخلين بيني وبين أزواجي أو لأغشين الناس عنقا واحدا فيقولون : ومن أزواجك ؟ فتقول : كل جبار كفور فتلتقطهم بلسانها من بين ظهراني الناس فتقذفهم في جوفها ثم تستأخر ثم تقول : وعزة ربي ليخلين بيني وبين أزواجي أو لأغشين الناس عنقا واحدا فيقولون : من أزواجك ؟ فتقول : كل مختال فخور فتلتقطهم بلسانها من بين ظهراني الناس فتقذفهم في جوفها ثم تستأخر ويقضي الله بين العباد
Artinya:
“Jika Allooh سبحانه وتعالى kumpulkan manusia di satu padang pada hari Kiamat, Api Neraka itu akan mengejar satu-sama-lain. Kemudian penjaga-penjaga neraka akan mencegahnya, lalu api neraka berkata: “Demi Allooh Yang Maha Perkasa, aku akan berkholwat (berdua-dua saja), menangkap suami-suamiku dan aku akan peluk mereka.”
Kemudian ditanya: “Siapa suami kalian?”
Dijawabnya: “Setiap orang yang sombong dan kejam”
Kemudian api Neraka menjulurkan lidahnya, menyantap manusia dan mencampakkannya kedalam perutnya. Lalu hal itu terus dilakukannya, sedangkan para penjaga api neraka berusaha menghentikannya.
Api Neraka berkata, “Demi Allooh Yang Maha Perkasa, aku akan berkholwat (berdua-dua saja), menangkap suami-suamiku dan aku akan peluk mereka.”
Kemudian ditanya: “Siapa suami kalian?”
Dijawabnya: “Setiap orang yang kejam dan kaafir.”
Kemudian api Neraka menjulurkan lidahnya, menyantap manusia dan mencampakkannya kedalam perutnya. Lalu hal itu terus dilakukannya, sedangkan para penjaga api neraka berusaha menghentikannya.
Api Neraka berkata, “Demi Allooh Yang Maha Perkasa, aku akan berkholwat (berdua-dua saja), menangkap suami-suamiku dan aku akan peluk mereka”
Kemudian ditanya: “Siapa suami kalian?”
Dijawabnya: “Setiap orang yang sombong dan bangga diri.”
Kemudian api Neraka menjulurkan lidahnya, menyantap manusia dan mencampakkannya kedalam perutnya. Lalu hal itu terus-menerus dilakukannya, sehingga Allooh سبحانه وتعالى putuskan perkara diantara mereka.”



Demikian itu dalil-dalil yang menunjukkan kepada kita bahwa Api Neraka itu akan bisa bekerja melakukan sesuatu, bisa melihat, bisa mendengar bahkan bisa berbicara.
Lihat juga Surat Qoof (50) ayat 30 :
يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِن مَّزِيدٍ
Artinya:
“(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami (Allooh) bertanya kepada Jahannam: “Apakah kamu sudah penuh?” Dia menjawab : “Masih ada tambahan?”

Ternyata Api Neraka itu bisa berbicara, seperti telah dijelaskan pada bahasan sebelum ini.
Di dalam Hadits Riwayat  Imaam Muslim no: 7256, Imaam Al Bukhoory no: 6661 dan Imaam At Turmudzy no: 3272, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
لَا تَزَالُ جَهَنَّمُ {تَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ} حَتَّى يَضَعَ رَبُّ الْعِزَّةِ فِيهَا قَدَمَهُ فَتَقُولُ قَطْ قَطْ
Artinya:
“Senantiasa ke dalam Jahannam itu dicampakkan dan dilempari dengan penghuninya (penghuni neraka), tetapi Jahannam itu selalu mengatakan: ‘Apakah masih ada tambahan ya Allooh?’ Dan terus-menerus tidak pernah penuh sampai dengan Allooh meletakkan kaki-Nya, lalu Jahannam mengatakan:  ‘Cukup, cukup’.”
Artinya, bahwa Neraka Jahannam itu ternyata bisa berbicara. Dan masih banyak dalil-dalil yang mengatakan bahwa Jahannam bisa berbicara, seperti misalnya dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 4850 dan Imaam Muslim no: 7354, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
تَحَاجَّتْ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَقَالَتْ النَّارُ أُوثِرْتُ بِالْمُتَكَبِّرِينَ وَالْمُتَجَبِّرِينَ وَقَالَتْ الْجَنَّةُ مَا لِي لَا يَدْخُلُنِي إِلَّا ضُعَفَاءُ النَّاسِ وَسَقَطُهُمْ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِلْجَنَّةِ أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي وَقَالَ لِلنَّارِ إِنَّمَا أَنْتِ عَذَابِي أُعَذِّبُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا مِلْؤُهَا فَأَمَّا النَّارُ فَلَا تَمْتَلِئُ حَتَّى يَضَعَ رِجْلَهُ فَتَقُولُ قَطْ قَطْ فَهُنَالِكَ تَمْتَلِئُ وَيُزْوَى بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ وَلَا يَظْلِمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ خَلْقِهِ أَحَدًا وَأَمَّا الْجَنَّةُ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنْشِئُ لَهَا خَلْقًا
Artinya:
“Surga dan neraka saling menghujat.
Kata api neraka: “Aku diutamakan bagi penghuniku adalah orang-orang yang sombong, kejam, tirani.”
Lalu surga mengatakan: “Kenapa yang masuk kepadaku tidak ada lain kecuali orang-orang yang lemah, orang-orang yang tidak terpandang?”
Lalu Allooh سبحانه وتعالى berfirman kepada Surga: “Wahai surga, kamu adalah kasih-sayang-Ku, dimana Aku menyayangi kalian siapa yang Aku kehendaki.”
Kemudian Allooh سبحانه وتعالى berfirman kepada Api Neraka (Jahannam): “Wahai Neraka, kamu adalah siksa-Ku, Aku siksa melalui kamu siapa saja yang Aku kehendaki.
Dan setiap dari keduanya mempunyai penghuni yang memenuhinya. Adapun Neraka, tidak lah penuh sehingga سبحانه وتعالى letakkan kaki-Nya dan Neraka pun berkata, “Cukup, cukup.”
Pada saat itu, maka penuhlah Neraka dan satu dengan yang lainnya sudah sangat padat. Dan Allooh سبحانه وتعالى tidak mendzolimi seorang pun dari makhluk-Nya. Adapun surga, maka Allooh سبحانه وتعالى memperluasnya.”

Demikian Hadits tersebut diatas, menunjukkan kepada kita bahwa Api Neraka diajak berbicara, bahkan bisa pula berbicara.
LUAS DAN SEMPITNYA API NERAKA
Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Furqon (25) ayat 13 :
وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَاناً ضَيِّقاً مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُوراً
Artinya:
“Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan .”

Artinya, neraka adalah tempat dimana manusia dihimpit dan dijepit, serta sempit ruang geraknya.
Dalam ayat lain dikatakan bahwa neraka adalah sempit, bahkan bukan saja sempit tetapi juga dikepung (ditutup) semua sisinya, bagaikan penjara, tidak bisa bergerak kemanapun.
Dalam QS. Al Balad (90) ayat 19 dan 20 :
Ayat 19 :
وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ
Artinya:
“Dan orang-orang yang kaafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri.”
Ayat 20 :
عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ
Artinya:
“Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.”

Maksudnya, bahwa neraka itu tertutup, sempit dan tidak bisa keluar dari ruang sempit itu.
Dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 6551 dan Imaam Muslim no: 7365, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjelaskan, misalnya orang kaafir yang tersiksa itu semakin besar rasa pedih siksanya (dibesarkan oleh Allooh سبحانه وتعالى), antara lain beliau صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَا بَيْنَ مَنْكِبَيْ الْكَافِرِ مَسِيرَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ للرَّاكِبِ الْمُسْرِعِ
Artinya:
“Orang kaafir yang ada dalam Neraka nanti, lebar bahunya adalah tiga hari perjalanan bagi orang yang berkendaraan cepat.”

Bayangkan jika manusia berjalan 5 Km per jam selama 8 jam per hari, maka untuk tiga hari perjalanan adalah sama dengan tidak kurang dari 1200 km.
Tentu itu Allooh سبحانه وتعالى ancamkan kepada orang-orang yang berbuat syirik terhadap Allooh سبحانه وتعالى. Misalnya dalam  QS. Ash Shoffaat (37) ayat 22 dan 23 :

Ayat 22 :
احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ
Artinya:
“ (Kepada malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang dzolim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah,”

Ayat 23 :
مِن دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ
Artinya:
“selain Allooh; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.”

Itu adalah siksa bagi mereka yang berbuat syirik (menyembah selain Allooh سبحانه وتعالى).  Oleh karena itu orang yang menyembah berhala, atau matahari atau lainnya, mereka akan Allooh سبحانه وتعالى giring ke dalam neraka Jahannam. Kalau seandainya orang-orang dzolim termasuk pasangannya (suami-isteri), termasuk apa yang mereka sembah, semuanya dimasukkan ke dalam Jahannam. Maka jika satu orang kaafir saja lebar bahunya 180 km lebarnya, dikalikan sekian milyar orang yang dimasukkan ke dalam neraka, bisa dibayangkan berapa luasnya neraka itu. Tentu tidak akan bisa kita hitung.
Intinya: Bahwa Neraka itu cukup luas untuk menampung siapa saja manusia yang sombong kepada Allooh سبحانه وتعالى, Dia tidak akan kehabisan makar untuk menyiksa dan meng-adzab orang yang sombong dan menolak Al Islam, menolak pedoman Allooh سبحانه وتعالى, tidak mau beriman, tidak mau beribadah kepada Allooh سبحانه وتعالى dan melanggar ketentuan aturan-aturan-Nya yang diberikan kepada mereka.
Semua itu adalah ancaman, yang tentunya kita hendaknya merasa takut kepada Allooh سبحانه وتعالى, tidak boleh menyepelekannya, karena semua itu adalah Firman Allooh سبحانه وتعالى dan sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Dalam hadits-Hadits yang lain juga digambarkan tentang gigi orang kaafir di akhirat kelak dibesarkan sampai taringnya akan sebesar gunung Uhud. Dan orang kaafir itu akan disiksa dalam api Neraka. Na’uudzubillaahi min dzaalik !

Apa yang biasa dipahami oleh orang bahwa Neraka itu mempunyai beberapa tingkatan, yaitu tingkatan yang paling bawah, paling berat sampai tingkatan yang paling ringan, dan ternyata menurut AlQur’an dan menurut yang ditafsirkan oleh para ‘Ulama itu bukanlah menunjukkan derajat.

Dr. Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsirnya mengatakan bahwa ada beberapa (pendapat) tentang masalah tersebut, diartikan antara lain: “Tujuh lapis, tujuh derajat atau tujuh tingkat (lapisan ke atas)”.

Ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud “Tujuh” adalah “Tujuh Bagian”. Menurut Ibnul Juraij, misalnya apa yang dinamakan Jahannam, Ladzoo, Huthomah, Sa’iir, Saqor, Jahiim, Al Haawiyah.
Sedangkan Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه, mengatakan bahwa, “Pintu Jahannam itu ada 7 (tujuh), dimana yang satu lebih tinggi dari yang lain. Penuh satu demi satu, sehingga semuanya penuh.”
Nau’uudzu billaahi min ‘adzaabi Jahannam !
Dan Haawiyah ini adalah Neraka yang paling dalam dan juga disebut: Ad Darkul Asfal. Di atas Haawiyah ada Al Jahiim, lalu Saqor, lalu Sa’iir, lalu Al Huthomah, lalu Ladzoo dan yang paling atas adalah Jahannam.
Menurut Imaam Adh Dhohaak رحمه الله, bahwa semua tingkatan tersebut Allooh سبحانه وتعالى khususkan untuk masing-masing kelompok orang. Misalnya:
Neraka Jahannam: penghuninya adalah orang-orang dari kalangan Mu’minin, Muslimin, tetapi mereka berbuat ma’shiyat kepada Allooh سبحانه وتعالى.
Neraka Ladzoo : adalah tempat yang (disediakan) untuk orang-orang kaafir dari kalangan Yahudi.
Neraka Al Huthomah: adalah tempat untuk orang-orang kaafir dari kalangan Nashroni.
Neraka Sa’iir : adalah tempat untuk orang-orang musyrikun penyembah berhala (animisme, dinamisme)
Neraka Saqor : adalah tempat untuk orang-orang Majusi.
Neraka Jahiim : adalah tempat untuk orang-orang Musyrikin.
Neraka Al Haawiyah : adalah tempat untuk orang-orang Munaafiq.
Tepatlah seperti yang Allooh سبحانه وتعالى firmankan bahwa orang-orang Munaafiq itu ada di dalam keraknya api neraka (Al Haawiyah).
Dalam Hadit Riwayat Imaam Abu Ya’la dalam Musnadnya, dan Sanad Hadits ini Shohiih menurut Syaikh Husein Salim Asad, dari Shohabat Abu Saa’id Al Khudry رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
يمر الناس على جسر جهنم وعليه حسك وكلاليب وخطاطيف تخطف الناس يمينا وشمالا [ وعلى ] جنبتيه ملائكة يقولون : اللهم سلم سلم فمن الناس من يمر مثل البرق ومنهم من يمر مثل الريح ومنهم من يمر مثل الفرس ومنهم من يسعى سعيا ومنهم من يمشي مشيا ومنهم من يحبو حبوا ومنهم من يزحف زحفا فأما أهل النار الذين هم أهلها فلا يموتون ولا يحيون وأما أناس فيؤخذون بذنوب وخطايا قال : فيحترقون فيكونون فحما ثم يؤذن في الشفاعة فيؤخذون ضبارات ضبارات فيقذفون على نهر من أنهار الجنة فينبتون كما تنبت الحبة في حميل السيل قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : أما رأيتم الضبغاء شجرة تنب في الغثاء ؟ فيكون في آخر من أخرج من النار رجل على شفتها فيقول : يا رب اصرف وجهي عنها فيقول : عهدك وذمتك لا تسألني غيرها قال : وعلى الصراط ثلاث شجرات فيقول : يا رب حولني إلى هذه الشجرة آكل من ثمرها وأكون في ظلها فيقول : عهدك وذمتك لا تسألني غيرها قال : ثم يرى أخرى أحسن منها فيقول : يا رب حولني إلى هذه آكل من ثمرها وأكون في ظلها قال : فيقول : عهدك وذمتك لا تسألني غيرها قال : ثم يرى أخرى فيقول : يا رب حولني إلى هذه آكل من ثمرها وأشرب في ظلها ثم يرى سواد الناس ويسمع كلامهم قال : فيقول : يا رب أدخلني الجنة قال أبو نضرة : اختلف أبو سعيد ورجل من أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم فقال أحدهما : فيدخله الجنة فيعطى الدنيا ومثلها وقال الآخر : يدخل الجنة فيعطى الدنيا وعشرة أمثالها
Artinya:
“Manusia akan melewati jembatan Jahannam dimana diatasnya terdapat duri-duri besi yang sangat panas dan tajam, yang menggapai-gapai manusia dari sisi kanan maupun kirinya. Dan di kedua tepinya terdapat malaikat mengatakan, “Ya Allooh, selamatkanlah, selamatkanlah.”
Maka diantara manusia ada yang melewatinya secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat kuda, ada yang berlari kecil, ada yang berjalan biasa, ada yang berjalan sempoyongan, dan ada yang merangkak. Adapun penghuni neraka yang menghuninya, maka mereka tidak mati dan tidak hidup.
Adapun manusia yang diadzab karena dosa dan kesalahannya, maka mereka akan terbakar menjadi bara, kemudian diberi izin mendapatkan syafa’at, sehingga diambil berupa kerak-kerak, kemudian dilemparkan ke sungai dari sungai-sungai surga; sehingga tumbuh sebagaimana tumbuhnya kecambah.
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Apakah kalian melihat tetumbuhan yang tumbuh diatas busa (tanah basah), maka akan dikeluarkan orang yang terakhir dari neraka, kemudian orang itu mengatakan, ‘Ya Allooh, palingkanlah wajahku dari Neraka.’
Dan Allooh سبحانه وتعالى berfirman, “Adakah merupakan janji dan jaminanmu, jangan meminta-Ku selain hal itu?”
Kemudian orang tersebut berkata, — sedang diatas jembatan shiroth ada 3 buah pohon –, “Ya Allooh, pindahkanlah aku ke pohon ini, sehingga aku memakan buahnya dan dibawah bayangannya.”
Kemudian Allooh سبحانه وتعالى berfirman, “Adakah merupakan janji dan jaminanmu, jangan meminta-Ku selain hal itu?”
Lalu orang tersebut melihat pohon yang lebih baik dari itu, kemudian ia berkata, “Ya Allooh, pindahkanlah aku ke pohon itu, agar aku memakan buahnya dan berlindung dibawah bayangannya.”
Lalu Allooh سبحانه وتعالى berfirman lagi, “Adakah merupakan janji dan jaminanmu, jangan meminta-Ku selain hal itu?”
Lalu orang tersebut melihat pohon yang lebih baik lagi dari itu, kemudian ia berkata, “Ya Allooh, pindahkanlah aku ke pohon itu, agar aku memakan buahnya dan minum dibawah bayangannya.”
Kemudian orang tersebut melihat kerumunan manusia dari jauh, dan mendengar perkataan mereka, lalu orang tersebut berkata, “Ya Allooh masukkanlah aku ke surga.”
Abu Nadhroh berkata, “Abu Saa’id berselisih dengan salah seorang Shohabat Nabi صلى الله عليه وسلم. Satu dari mereka mengatakan, maka “Allooh masukkan orang tersebut kedalam surga, dan diberikan baginya dunia serta semisalnya.”
Sedang Shohabat yang lain mengatakan, “Lalu orang itu masuk kedalam surga dan diberi dunia serta sepuluh kali lipat darinya.”
Tetapi kita berlindung kepada Allooh سبحانه وتعالى, mudah-mudahan kita tidak ditempatkan di dalam bagian manapun dari api neraka itu, karena sedemikian dahsyatnya siksaan Allooh سبحانه وتعالى seperti disebutkan diatas.
BAHAN BAKAR NERAKA
Bahan bakar Neraka seperti disebutkan dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 24 :
فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ وَلَن تَفْعَلُواْ فَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ
Artinya:
“Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari Neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kaafir.”
Jadi, bahan bakar neraka adalah manusia dan batu.
Demikian pula dalam ayat yang lain Allooh سبحانه وتعالى berfirman bahwa: “Bahan bakar neraka adalah batu dan manusia.”
Tentu masih banyak lagi keterangan (perkataan) para ‘Ulama Ahlus Sunnah, namun kiranya cukup sekian, yang pada intinya bahwa Neraka itu adalah sedemikian dahsyatnya, mudah-mudahan kita tidak termasuk yang di dalamnya.
Yang penting dari keterangan tersebut diatas adalah bahwa: Allooh سبحانه وتعالى telah menjanjikan, mengancam kepada siapa saja dari manusia untuk masuk ke dalam neraka, yaitu ketika mereka tidak mau menerima Firman Allooh سبحانه وتعالى, petunjuk-Nya atau kaafir kepada Al Islam, kafir kepada ajaran Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, atau bahkan mungkin termasuk di dalamnya adalah orang-orang yang mengolok-olok dienullooh.  Karena nanti di lain kesempatan akan kita bahas perkara apa sajakah yang membuat seseorang terhukumi sebagai Kaafir.
TANYA JAWAB

Pertanyan:
  1. Seperti keterangan diatas bahwa dalamnya neraka itu, ketika dilemparkan batu ke dalam neraka tersebut, maka selama 70 tahun belumlah batu itu sampai ke dasarnya neraka. Apakah yang dimaksud dasar neraka itu adalah yang juga disebut sebagai Al Haawiyah?
  2. Dijelaskan sebelum ini bahwa Surga dan Neraka adalah makhluk Allooh سبحانه وتعالى, bahwa surga dan neraka bisa berkata-kata, dan mereka tidak musnah ketika Kiamat.  Lalu bagaimana dengan QS. Al Anbiyaa’ (21) ayat 35 bahwa :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Kullu nafsin dzaa’iqotul mauut” (Setiap yang bernyawa pasti akan mati).
Apakah untuk surga dan neraka ada pengecualian?
Jawaban:
  1. Kembali kepada keterangan diatas bahwa neraka mempunyai nama-nama, seperti disebutkan diatas. Bukan berarti Jahannam lain dengan Jahim, lain lagi dengan Saqor, lain pula dengan Huthomah, tidak demikian. Kalau disebutkan sedalam itu, maka maksudnya adalah semuanya terhitung Neraka. Memang ada pendapat ‘Ulama yang menjelaskan tentang Darokat adalah tingkatan Neraka. Sedangkan Darojat adalah tingkatan Surga. Darokat Jahannam seperti dipahami oleh Ibnu Juraij adalah bagian atasnya.
Tetapi yang dimaksudkan dalam Hadits,  yang dimaksud dengan Neraka itu adalah dari awal (Jahannam) sampai dengan Haawiyah.
2. Yang tepat adalah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al-Qosos (28) ayat 88:
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا
“Kullu syai-in haalikun illa waj-hah”
(Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allooh)
Penjelasannya sudah kita bahas dalam kajian sebelumnya, mudah-mudahan masih ingat bahwa kata para ‘Ulama Ahlus Sunnah, tafsir yang sesungguhnya adalah: “Makhluk yang Allooh سبحانه وتعالى takdirkan musnah akan musnah, dan makhluk yang ditakdirkan oleh Allooh سبحانه وتعالى tidak musnah, maka tidak akan musnah”.
Itu semua berdasarkan dalil yang ada. Kalau dikatakan bahwa Surga dan Neraka oleh Allooh سبحانه وتعالى tidak dimusnahkan dulu, lalu Allooh سبحانه وتعالى ciptakan ulang, maka yang demikian itu kita tidak akan bisa menjawabnya karena itu adalah berdasarkan pada berita dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dan bagi kita adalah tidak boleh bertanya sesuatu yang melebihi kapasitas kemampuan manusia. Karena semuanya itu kembalinya adalah kepada wahyu dari Allooh سبحانه وتعالى.Semua terserah kepada Allooh سبحانه وتعالى, Yang Maha Pencipta, mana yang harus abadi dan mana yang tidak harus abadi.

Pertanyaan:
  1. Dalam suatu Hadits dikatakan bahwa ada dialog antara penghuni neraka dan penduduk surga. Apakah jarak mereka itu dekat? Sedangkan panas api neraka itu luar biasa.  Bagaimana memahami hal ini?
  2. 2. Di dalam neraka ada sebuah pohon yang dahsyat. Bagaimanakah dahsyatnya pohon itu?

Jawaban:
Inilah yang disebut oleh para ‘Ulama bahwa kita ini sebagai Ahlussunnah wal Jamaa’ah meyakini Nash sebagaimana dhohirnya, tanpa men-takwilnya, tanpa menafsirkan sesuatu yang di luar dari apa yang diberitakan oleh Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم.
Ketika diberitahukan kepada kita bahwa antara Surga dan Neraka itu saling berkata dan berhujat, atau berdialog, maka jangan bertanya seperti apa kalau memang tidak ada berita penjelasannya dari dalil. Tetapi kita ini sebagai Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah, hendaknya puas dengan apa yang diberitakan oleh Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم. Sedangkan apa-apa yang tidak diberitakan oleh Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم, maka kita tidak akan membahasnya.
Perkara penghuni Neraka dan Surga yang saling bisa berdialog, bahasan kita belum sampai kesana dan akan sampai kesana, dan akan dibahas pada waktu berikutnya.
Pertanyaan:
Dalam suatu literatur dikatakan bahwa manusia itu sudah ditentukan takdirnya. Bahkan sudah ditentukan takdirnya itu limapuluh ribu tahun sebelumnya, bahwa ia akan di surga atau di neraka. Apakah kita manusia masih bisa berusaha untuk mengubah takdir itu yang tadinya ditakdirkan di neraka lalu bisa ke surga?
Jawaban:
Benar bahwa manusia itu limapuluh ribu tahun sebelumnya sudah ditakdirkan oleh Allooh سبحانه وتعالى, apa yang akan terjadi pada dirinya sampai dengan hari Kiamat.
Tetapi ada Hadits lain yang membuat kita optimis, yakni Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2139, yang di-Hasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله, dari Shohabat Salman رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
لا يرد القضاء إلا الدعاء ولا يزيد العمر إلا البر
Artinya:
“Tidak ada yang bisa menolak takdir, kecuali do’a”.
Oleh karena itu optimis-lah kita kepada Allooh سبحانه وتعالى, berdo’alah sebanyak-banyaknya, memohon kepada Allooh سبحانه وتعالى dibarengi dengan usaha yang gigih, untuk menjauhi dari apa yang mengundang murka Allooh سبحانه وتعالى yang menjerumuskan ke dalam api neraka. Allooh سبحانه وتعالى tidak akan mendzolimi seorangpun, karena firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Yunus (10) ayat 44:
إِنَّ اللّهَ لاَ يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئاً وَلَـكِنَّ النَّاسَ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Artinya:
“Sesungguhnya Allooh tidak berbuat dzolim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat dzolim kepada diri mereka sendiri.”
Dalam sebuah Hadits, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjelaskan bahwa: “Berdo’a itu akan mengubah takdir.”
Dengan demikian bila orang berusaha untuk bertaqwa, istiqomah, di atas Al Qur’an dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka tidak mungkin Allooh سبحانه وتعالى menjerumuskannya ke dalam api neraka. Bahkan sebaliknya Allooh سبحانه وتعالى akan memberikan ganjaran yang berlipat-lipat berupa Ridho, Kasih-Sayang dan Surga-Nya.
Pertanyaan:
Disampaikan diatas, sesuai dengan ayat Al Qur’an bahwa neraka itu bahan bakarnya dari manusia dan batu. Kalau batu menjadi bahan bakar neraka, ma’shiyat apa yang dilakukan oleh batu itu sehingga ia dijadikan bahan bakar neraka?
Jawaban:
Allooh سبحانه وتعالى ciptakan bahwa batu itu adalah  menjadi bahan bakar neraka, bukan karena batu itu bermaksiat. Karena batu tidak mukallaf, batu adalah benda mati, tidak seperti manusia. Ketika Allooh سبحانه وتعالى mengancam tentang siapa yang akan menjadi penghuni neraka, dimana batu menjadi bahan bakarnya, bukan berarti batu itu akan disiksa, melainkan Allooh سبحانه وتعالى takdirkan bahwa batu itu sebagai alat pembakar di neraka.
Alhamdulillah, kiranya cukup sekian dulu bahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

apa yg dicari dlm hidup ini

 
ALQUR’AN DAN ASTRONOMY
Penciptaan Alam Semesta
Asal mula alam semesta digambarkan dalam Al Qur’an pada ayat berikut:”Dialah pencipta langit dan bumi.” (Al Qur’an, 6:101)Keterangan yang diberikan Al Qur’an ini bersesuaian penuh dengan penemuan ilmu pengetahuan masa kini. Kesimpulan yang didapat astrofisika saat ini adalah bahwa keseluruhan alam semesta, beserta dimensi materi dan waktu, muncul menjadi ada sebagai hasil dari suatu ledakan raksasa yang tejadi dalam sekejap. Peristiwa ini, yang dikenal dengan “Big Bang”, membentuk keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar tahun lalu. Jagat raya tercipta dari suatu ketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik tunggal. Kalangan ilmuwan modern menyetujui bahwa Big Bang merupakan satu-satunya penjelasan masuk akal dan yang dapat dibuktikan mengenai asal mula alam semesta dan bagaimana alam semesta muncul menjadi ada.Sebelum Big Bang, tak ada yang disebut sebagai materi. Dari kondisi ketiadaan, di mana materi, energi, bahkan waktu belumlah ada, dan yang hanya mampu diartikan secara metafisik, terciptalah materi, energi, dan waktu. Fakta ini, yang baru saja ditemukan ahli fisika modern, diberitakan kepada kita dalam Al Qur’an 1.400 tahun lalu.Sensor sangat peka pada satelit ruang angkasa COBE yang diluncurkan NASA pada tahun 1992 berhasil menangkap sisa-sisa radiasi ledakan Big Bang. Penemuan ini merupakan bukti terjadinya peristiwa Big Bang, yang merupakan penjelasan ilmiah bagi fakta bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan.MENGEMBANGNYA ALAM SEMESTA
Edwin Hubble dengan teleskop besarnya.
Dalam Al Qur’an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini:
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47)
Kata “langit”, sebagaimana dinyatakan dalam ayat ini, digunakan di banyak tempat dalam Al Qur’an dengan makna luar angkasa dan alam semesta. Di sini sekali lagi, kata tersebut digunakan dengan arti ini. Dengan kata lain, dalam Al Qur’an dikatakan bahwa alam semesta “mengalami perluasan atau mengembang”. Dan inilah yang kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini.
Sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang secara terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat. Para ilmuwan menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan balon yang sedang ditiup.
Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus “mengembang”.
Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang.
Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi. Sebuah alam semesta, di mana segala sesuatunya terus bergerak menjauhi satu sama lain, berarti bahwa alam semesta tersebut terus-menerus “mengembang”. Pengamatan yang dilakukan di tahun-tahun berikutnya memperkokoh fakta bahwa alam semesta terus mengembang. Kenyataan ini diterangkan dalam Al Qur’an pada saat tak seorang pun mengetahuinya. Ini dikarenakan Al Qur’an adalah firman Allah, Sang Pencipta, dan Pengatur keseluruhan alam
PEMISAHAN LANGIT DAN BUMI
Gambar ini menampakkan peristiwa Big Bang, yang sekali lagi mengungkapkan bahwa Allah telah menciptakan jagat raya dari ketiadaan. Big Bang adalah teori yang telah dibuktikan secara ilmiah. Meskipun sejumlah ilmuwan berusaha mengemukakan sejumlah teori tandingan guna menentangnya, namun bukti-bukti ilmiah malah menjadikan teori Big Bang diterima secara penuh oleh masyarakat ilmiah.
Satu ayat lagi tentang penciptaan langit adalah sebagaimana berikut:
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Al Qur’an, 21:30)
Kata “ratq” yang di sini diterjemahkan sebagai “suatu yang padu” digunakan untuk merujuk pada dua zat berbeda yang membentuk suatu kesatuan. Ungkapan “Kami pisahkan antara keduanya” adalah terjemahan kata Arab “fataqa”, dan bermakna bahwa sesuatu muncul menjadi ada melalui peristiwa pemisahan atau pemecahan struktur dari “ratq”. Perkecambahan biji dan munculnya tunas dari dalam tanah adalah salah satu peristiwa yang diungkapkan dengan menggunakan kata ini.
Marilah kita kaji ayat ini kembali berdasarkan pengetahuan ini. Dalam ayat tersebut, langit dan bumi adalah subyek dari kata sifat “fatq”. Keduanya lalu terpisah (”fataqa”) satu sama lain. Menariknya, ketika mengingat kembali tahap-tahap awal peristiwa Big Bang, kita pahami bahwa satu titik tunggal berisi seluruh materi di alam semesta. Dengan kata lain, segala sesuatu, termasuk “langit dan bumi” yang saat itu belumlah diciptakan, juga terkandung dalam titik tunggal yang masih berada pada keadaan “ratq” ini. Titik tunggal ini meledak sangat dahsyat, sehingga menyebabkan materi-materi yang dikandungnya untuk “fataqa” (terpisah), dan dalam rangkaian peristiwa tersebut, bangunan dan tatanan keseluruhan alam semesta terbentuk.
Ketika kita bandingkan penjelasan ayat tersebut dengan berbagai penemuan ilmiah, akan kita pahami bahwa keduanya benar-benar bersesuaian satu sama lain. Yang sungguh menarik lagi, penemuan-penemuan ini belumlah terjadi sebelum abad ke-20.

GARIS EDAR
Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33)
Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:38)
Fakta-fakta yang disampaikan dalam Al Qur’an ini telah ditemukan melalui pengamatan astronomis di zaman kita. Menurut perhitungan para ahli astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa yang mencapai 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solar Apex. Ini berarti matahari bergerak sejauh kurang lebih 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya, semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang terencana.

Sebagaimana komet-komet lain di alam raya, komet Halley, sebagaimana terlihat di atas, juga bergerak mengikuti orbit atau garis edarnya yang telah ditetapkan. Komet ini memiliki garis edar khusus dan bergerak mengikuti garis edar ini secara harmonis bersama-sama dengan benda-benda langit lainnya.
Keseluruhan alam semesta yang dipenuhi oleh lintasan dan garis edar seperti ini, dinyatakan dalam Al Qur’an sebagai berikut:
“Demi langit yang mempunyai jalan-jalan.” (Al Qur’an, 51:7)
Terdapat sekitar 200 milyar galaksi di alam semesta yang masing-masing terdiri dari hampir 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet, dan sebagian besar planet-planet ini mempunyai bulan. Semua benda langit tersebut bergerak dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Selama jutaan tahun, masing-masing seolah “berenang” sepanjang garis edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lain. Selain itu, sejumlah komet juga bergerak bersama sepanjang garis edar yang ditetapkan baginya.
Semua benda langit termasuk planet, satelit yang mengiringi planet, bintang, dan bahkan galaksi, memiliki orbit atau garis edar mereka masing-masing. Semua orbit ini telah ditetapkan berdasarkan perhitungan yang sangat teliti dengan cermat. Yang membangun dan memelihara tatanan sempurna ini adalah Allah, Pencipta seluruh sekalian alam.
Garis edar di alam semesta tidak hanya dimiliki oleh benda-benda angkasa. Galaksi-galaksi pun berjalan pada kecepatan luar biasa dalam suatu garis peredaran yang terhitung dan terencana. Selama pergerakan ini, tak satupun dari benda-benda angkasa ini memotong lintasan yang lain, atau bertabrakan dengan lainnya. Bahkan, telah teramati bahwa sejumlah galaksi berpapasan satu sama lain tanpa satu pun dari bagian-bagiannya saling bersentuhan.
Dapat dipastikan bahwa pada saat Al Qur’an diturunkan, manusia tidak memiliki teleskop masa kini ataupun teknologi canggih untuk mengamati ruang angkasa berjarak jutaan kilometer, tidak pula pengetahuan fisika ataupun astronomi modern. Karenanya, saat itu tidaklah mungkin untuk mengatakan secara ilmiah bahwa ruang angkasa “dipenuhi lintasan dan garis edar” sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Akan tetapi, hal ini dinyatakan secara terbuka kepada kita dalam Al Qur’an yang diturunkan pada saat itu: karena Al Qur’an adalah firman Allah.
BENTUK BULAT PLANET BUMI
“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam…” (Al Qur’an, 39:5)
Dalam Al Qur’an, kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan tentang alam semesta sungguh sangat penting. Kata Arab yang diterjemahkan sebagai “menutupkan” dalam ayat di atas adalah “takwir”. Dalam kamus bahasa Arab, misalnya, kata ini digunakan untuk menggambarkan pekerjaan membungkus atau menutup sesuatu di atas yang lain secara melingkar, sebagaimana surban dipakaikan pada kepala.
Keterangan yang disebut dalam ayat tersebut tentang siang dan malam yang saling menutup satu sama lain berisi keterangan yang tepat mengenai bentuk bumi. Pernyataan ini hanya benar jika bumi berbentuk bulat. Ini berarti bahwa dalam Al Qur’an, yang telah diturunkan di abad ke-7, telah diisyaratkan tentang bentuk planet bumi yang bulat.
Namun perlu diingat bahwa ilmu astronomi kala itu memahami bumi secara berbeda. Di masa itu, bumi diyakini berbentuk bidang datar, dan semua perhitungan serta penjelasan ilmiah didasarkan pada keyakinan ini. Sebaliknya, ayat-ayat Al Qur’an berisi informasi yang hanya mampu kita pahami dalam satu abad terakhir. Oleh karena Al Qur’an adalah firman Allah, maka tidak mengherankan jika kata-kata yang tepat digunakan dalam ayat-ayatnya ketika menjelaskan jagat raya.
ATAP YG TERPELIHARA

Gambar ini memperlihatkan sejumlah meteor yang hendak menumbuk bumi. Benda-benda langit yang berlalu lalang di ruang angkasa dapat menjadi ancaman serius bagi Bumi. Tapi Allah, Pencipta Maha Sempurna, telah menjadikan atmosfir sebagai atap yang melindungi bumi. Berkat pelindung istimewa ini, kebanyakan meteorid tidak mampu menghantam bumi karena terlanjur hancur berkeping-keping ketika masih berada di atmosfir.
Dalam Al Qur’an, Allah mengarahkan perhatian kita kepada sifat yang sangat menarik tentang langit:
“Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang ada padanya.” (Al Qur’an, 21:32)
Sifat langit ini telah dibuktikan oleh penelitian ilmiah abad ke-20.
Atmosfir yang melingkupi bumi berperan sangat penting bagi berlangsungnya kehidupan. Dengan menghancurkan sejumlah meteor, besar ataupun kecil ketika mereka mendekati bumi, atmosfir mencegah mereka jatuh ke bumi dan membahayakan makhluk hidup.
Atmosfir juga menyaring sinar-sinar dari ruang angkasa yang membahayakan kehidupan. Menariknya, atmosfir hanya membiarkan agar ditembus oleh sinar-sinar tak berbahaya dan berguna, - seperti cahaya tampak, sinar ultraviolet tepi, dan gelombang radio. Semua radiasi ini sangat diperlukan bagi kehidupan. Sinar ultraviolet tepi, yang hanya sebagiannya menembus atmosfir, sangat penting bagi fotosintesis tanaman dan bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup. Sebagian besar sinar ultraviolet kuat yang dipancarkan matahari ditahan oleh lapisan ozon atmosfir dan hanya sebagian kecil dan penting saja dari spektrum ultraviolet yang mencapai bumi.

Kebanyakan manusia yang memandang ke arah langit tidak pernah berpikir tentang fungsi atmosfir sebagai pelindung. Hampir tak pernah terlintas dalam benak mereka tentang apa jadinya bumi ini jika atmosfir tidak ada. Foto di atas adalah kawah raksasa yang terbentuk akibat hantaman sebuah meteor yang jatuh di Arizona, Amerika Serikat. Jika atmosfir tidak ada, jutaan meteorid akan jatuh ke Bumi, sehingga menjadikannya tempat yang tak dapat dihuni. Namun, fungsi pelindung dari atmosfir memungkinkan makhluk hidup untuk melangsungkan kehidupannya dengan aman. Ini sudah pasti perlindungan yang Allah berikan bagi manusia, dan sebuah keajaiban yang dinyatakan dalam Al Qur’an.
Fungsi pelindung dari atmosfir tidak berhenti sampai di sini. Atmosfir juga melindungi bumi dari suhu dingin membeku ruang angkasa, yang mencapai sekitar 270 derajat celcius di bawah nol.
Tidak hanya atmosfir yang melindungi bumi dari pengaruh berbahaya. Selain atmosfir, Sabuk Van Allen, suatu lapisan yang tercipta akibat keberadaan medan magnet bumi, juga berperan sebagai perisai melawan radiasi berbahaya yang mengancam planet kita. Radiasi ini, yang terus- menerus dipancarkan oleh matahari dan bintang-bintang lainnya, sangat mematikan bagi makhuk hidup. Jika saja sabuk Van Allen tidak ada, semburan energi raksasa yang disebut jilatan api matahari yang terjadi berkali-berkali pada matahari akan menghancurkan seluruh kehidupan di muka bumi.
Dr. Hugh Ross berkata tentang perang penting Sabuk Van Allen bagi kehidupan kita:
Bumi ternyata memiliki kerapatan terbesar di antara planet-planet lain di tata surya kita. Inti bumi yang terdiri atas unsur nikel dan besi inilah yang menyebabkan keberadaan medan magnetnya yang besar. Medan magnet ini membentuk lapisan pelindung berupa radiasi Van-Allen, yang melindungi Bumi dari pancaran radiasi dari luar angkasa. Jika lapisan pelindung ini tidak ada, maka kehidupan takkan mungkin dapat berlangsung di Bumi. Satu-satunya planet berbatu lain yang berkemungkinan memiliki medan magnet adalah Merkurius - tapi kekuatan medan magnet planet ini 100 kali lebih kecil dari Bumi. Bahkan Venus, planet kembar kita, tidak memiliki medan magnet. Lapisan pelindung Van-Allen ini merupakan sebuah rancangan istimewa yang hanya ada pada Bumi.  http://www.jps.net/bygrace/index. html Taken from Big Bang Refined by Fire by Dr. Hugh Ross, 1998. Reasons To Believe, Pasadena, CA.)
Energi yang dipancarkan dalam satu jilatan api saja, sebagaimana tercatat baru-baru ini, terhitung setara dengan 100 milyar bom atom yang serupa dengan yang dijatuhkan di Hiroshima. Lima puluh delapan jam setelah kilatan tersebut, teramati bahwa jarum magnetik kompas bergerak tidak seperti biasanya, dan 250 kilometer di atas atmosfir bumi terjadi peningkatan suhu tiba-tiba hingga mencapai 2.500 derajat celcius.
Singkatnya, sebuah sistem sempurna sedang bekerja jauh tinggi di atas bumi. Ia melingkupi bumi kita dan melindunginya dari berbagai ancaman dari luar angkasa. Para ilmuwan baru mengetahuinya sekarang, sementara berabad-abad lampau, kita telah diberitahu dalam Al Qur’an tentang atmosfir bumi yang berfungsi sebagai lapisan pelindung.
Energi yang dipancarkan oleh sebuah letusan pada Matahari sungguh amat dahsyat sehingga sulit dibayangkan akal manusia: Letusan tunggal pada matahari setara dengan ledakan 100 juta bom atom yang pernah dijatuhkan di Hiroshima. Bumi terlindungi dari pengaruh merusak akibat pancaran energi ini. The magnetosphere layer, formed by the magnetic field of the Earth, serves as a shield protecting the earth from celestial bodies, harmful cosmic rays and particles. In the above picture, this magnetosphere layer, which is also named Van Allen Belts, is seen. These belts at thousands of kilometres above the earth protect the living things on the Earth from the fatal energy that would otherwise reach it from space.
LANGIT YG MENGEMBALIKAN

Ayat ke-11 dari Surat Ath Thaariq dalam Al Qur’an, mengacu pada fungsi “mengembalikan” yang dimiliki langit.
“Demi langit yang mengandung hujan.” (Al Qur’an, 86:11)
Kata yang ditafsirkan sebagai “mengandung hujan” dalam terjemahan Al Qur’an ini juga bermakna “mengirim kembali” atau “mengembalikan”.
Sebagaimana diketahui, atmosfir yang melingkupi bumi terdiri dari sejumlah lapisan. Setiap lapisan memiliki peran penting bagi kehidupan. Penelitian mengungkapkan bahwa lapisan-lapisan ini memiliki fungsi mengembalikan benda-benda atau sinar yang mereka terima ke ruang angkasa atau ke arah bawah, yakni ke bumi. Sekarang, marilah kita cermati sejumlah contoh fungsi “pengembalian” dari lapisan-lapisan yang mengelilingi bumi tersebut.
Lapisan Troposfir, 13 hingga 15 km di atas permukaan bumi, memungkinkan uap air yang naik dari permukaan bumi menjadi terkumpul hingga jenuh dan turun kembali ke bumi sebagai hujan.
Lapisan ozon, pada ketinggian 25 km, memantulkan radiasi berbahaya dan sinar ultraviolet yang datang dari ruang angkasa dan mengembalikan keduanya ke ruang angkasa.
Ionosfir, memantulkan kembali pancaran gelombang radio dari bumi ke berbagai belahan bumi lainnya, persis seperti satelit komunikasi pasif, sehingga memungkinkan komunikasi tanpa kabel, pemancaran siaran radio dan televisi pada jarak yang cukup jauh.
Lapisan magnet memantulkan kembali partikel-partikel radioaktif berbahaya yang dipancarkan Matahari dan bintang-bintang lainnya ke ruang angkasa sebelum sampai ke Bumi.
Sifat lapisan-lapisan langit yang hanya dapat ditemukan secara ilmiah di masa kini tersebut, telah dinyatakan berabad-abad lalu dalam Al Qur’an. Ini sekali lagi membuktikan bahwa Al Qur’an adalah firman Allah.

ALQUR’AN DAN BUMI
LAPISAN-LAPISAN ATMOSFER
Bumi memiliki seluruh sifat yang diperlukan bagi kehidupan. Salah satunya adalah keberadaan atmosfir, yang berfungsi sebagai lapisan pelindung yang melindungi makhluk hidup. Adalah fakta yang kini telah diterima bahwa atmosfir terdiri dari lapisan-lapisan berbeda yang tersusun secara berlapis, satu di atas yang lain. Persis sebagaimana dipaparkan dalam Al Qur’an, atmosfir terdiri dari tujuh lapisan. Ini pastilah salah satu keajaiban Al Qur’an.
Satu fakta tentang alam semesta sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an adalah bahwa langit terdiri atas tujuh lapis.
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al Qur’an, 2:29)
“Kemudian Dia menuju langit, dan langit itu masih merupakan asap. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.” (Al Qur’an, 41:11-12)
Kata “langit”, yang kerap kali muncul di banyak ayat dalam Al Qur’an, digunakan untuk mengacu pada “langit” bumi dan juga keseluruhan alam semesta. Dengan makna kata seperti ini, terlihat bahwa langit bumi atau atmosfer terdiri dari tujuh lapisan.
Saat ini benar-benar diketahui bahwa atmosfir bumi terdiri atas lapisan-lapisan yang berbeda yang saling bertumpukan. Lebih dari itu, persis sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an, atmosfer terdiri atas tujuh lapisan. Dalam sumber ilmiah, hal tersebut diuraikan sebagai berikut:
Para ilmuwan menemukan bahwa atmosfer terdiri diri beberapa lapisan. Lapisan-lapisan tersebut berbeda dalam ciri-ciri fisik, seperti tekanan dan jenis gasnya. Lapisan atmosfer yang terdekat dengan bumi disebut TROPOSFER. Ia membentuk sekitar 90% dari keseluruhan massa atmosfer. Lapisan di atas troposfer disebut STRATOSFER. LAPISAN OZON adalah bagian dari stratosfer di mana terjadi penyerapan sinar ultraviolet. Lapisan di atas stratosfer disebut MESOSFER. . TERMOSFER berada di atas mesosfer. Gas-gas terionisasi membentuk suatu lapisan dalam termosfer yang disebut IONOSFER. Bagian terluar atmosfer bumi membentang dari sekitar 480 km hingga 960 km. Bagian ini dinamakan EKSOSFER. .
(Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 319-322)
Jika kita hitung jumlah lapisan yang dinyatakan dalam sumber ilmiah tersebut, kita ketahui bahwa atmosfer tepat terdiri atas tujuh lapis, seperti dinyatakan dalam ayat tersebut.
1. Troposfer
2. Stratosfer
3. Ozonosfer
4. Mesosfer
5. Termosfer
6. Ionosfer
7. Eksosfer
Keajaiban penting lain dalam hal ini disebutkan dalam surat Fushshilat ayat ke-12, “… Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.” Dengan kata lain, Allah dalam ayat ini menyatakan bahwa Dia memberikan kepada setiap langit tugas atau fungsinya masing-masing. Sebagaimana dapat dipahami, tiap-tiap lapisan atmosfir ini memiliki fungsi penting yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia dan seluruh makhluk hidup lain di Bumi. Setiap lapisan memiliki fungsi khusus, dari pembentukan hujan hingga perlindungan terhadap radiasi sinar-sinar berbahaya; dari pemantulan gelombang radio hingga perlindungan terhadap dampak meteor yang berbahaya.
Salah satu fungsi ini, misalnya, dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:
Atmosfir bumi memiliki 7 lapisan. Lapisan terendah dinamakan troposfir. Hujan, salju, dan angin hanya terjadi pada troposfir.
 http://muttley.ucdavis.edu/Book/Atmosphe…)
Adalah sebuah keajaiban besar bahwa fakta-fakta ini, yang tak mungkin ditemukan tanpa teknologi canggih abad ke-20, secara jelas dinyatakan oleh Al Qur’an 1.400 tahun yang lalu.
FUNGSI GUNUNG
Dengan perpanjangannya yang menghujam jauh ke dalam maupun ke atas permukaan bumi, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi yang berbeda, layaknya pasak. Kerak bumi terdiri atas lempengan-lempengan yang senantiasa dalam keadaan bergerak. Fungsi pasak dari gunung ini mencegah guncangan dengan cara memancangkan kerak bumi yang memiliki struktur sangat mudah bergerak.
Al Qur’an mengarahkan perhatian kita pada fungsi geologis penting dari gunung.
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…” (Al Qur’an, 21:31)
Sebagaimana terlihat, dinyatakan dalam ayat tersebut bahwa gunung-gunung berfungsi mencegah goncangan di permukaan bumi.
Kenyataan ini tidaklah diketahui oleh siapapun di masa ketika Al Qur’an diturunkan. Nyatanya, hal ini baru saja terungkap sebagai hasil penemuan geologi modern.
Menurut penemuan ini, gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya, sementara yang di atas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini berarti gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi.
Dalam tulisan ilmiah, struktur gunung digambarkan sebagai berikut:
Pada bagian benua yang lebih tebal, seperti pada jajaran pegunungan, kerak bumi akan terbenam lebih dalam ke dalam lapisan magma. (General Science, Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 305)
Dalam sebuah ayat, peran gunung seperti ini diungkapkan melalui sebuah perumpamaan sebagai “pasak”:
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?” (Al Qur’an, 78:6-7)
Dengan kata lain, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan ini. Dengan cara ini, mereka memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di atas lapisan magma atau di antara lempengan-lempengannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu.
Fungsi pemancangan dari gunung dijelaskan dalam tulisan ilmiah dengan istilah “isostasi”. Isostasi bermakna sebagai berikut:
Isostasi: kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi. (Webster’s New Twentieth Century Dictionary, 2. edition “Isostasy”, New York, s. 975)
Peran penting gunung yang ditemukan oleh ilmu geologi modern dan penelitian gempa, telah dinyatakan dalam Al Qur’an berabad-abad lampau sebagai suatu bukti Hikmah Maha Agung dalam ciptaan Allah.
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…” (Al Qur’an, 21:31)
ANGIN YANG MENGAWINKAN
Gambar di atas memperlihatkan tahap-tahap pembentukan gelombang air. Gelombang air terbentuk ketika angin meniup permukaan air. Akibat pengaruh angin ini, pertikel-partikel air mulai bergerak melingkar. Pergerakan ini kemudian mendorong terbentuknya gelombang air yang silih berganti, dan butiran-butiran air kemudian terbentuk oleh gelombang ini yang kemudian tersebar dan beterbangan di udara.
Dalam sebuah ayat Al Qur’an disebutkan sifat angin yang mengawinkan dan terbentuknya hujan karenanya.
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (Al Qur’an, 15:22)
Dalam ayat ini ditekankan bahwa fase pertama dalam pembentukan hujan adalah angin. Hingga awal abad ke 20, satu-satunya hubungan antara angin dan hujan yang diketahui hanyalah bahwa angin yang menggerakkan awan. Namun penemuan ilmu meteorologi modern telah menunjukkan peran “mengawinkan” dari angin dalam pembentukan hujan.
Fungsi mengawinkan dari angin ini terjadi sebagaimana berikut:
Di atas permukaan laut dan samudera, gelembung udara yang tak terhitung jumlahnya terbentuk akibat pembentukan buih. Pada saat gelembung-gelembung ini pecah, ribuan partikel kecil dengan diameter seperseratus milimeter, terlempar ke udara. Partikel-partikel ini, yang dikenal sebagai aerosol, bercampur dengan debu daratan yang terbawa oleh angin dan selanjutnya terbawa ke lapisan atas atmosfer. . Partikel-partikel ini dibawa naik lebih tinggi ke atas oleh angin dan bertemu dengan uap air di sana. Uap air mengembun di sekitar partikel-partikel ini dan berubah menjadi butiran-butiran air. Butiran-butiran air ini mula-mula berkumpul dan membentuk awan dan kemudian jatuh ke Bumi dalam bentuk hujan.
Sebagaimana terlihat, angin “mengawinkan” uap air yang melayang di udara dengan partikel-partikel yang di bawanya dari laut dan akhirnya membantu pembentukan awan hujan.
Apabila angin tidak memiliki sifat ini, butiran-butiran air di atmosfer bagian atas tidak akan pernah terbentuk dan hujanpun tidak akan pernah terjadi.
Hal terpenting di sini adalah bahwa peran utama dari angin dalam pembentukan hujan telah dinyatakan berabad-abad yang lalu dalam sebuah ayat Al Qur’an, pada saat orang hanya mengetahui sedikit saja tentang fenomena alam…
LAUTAN YG TIDAK BERCAMPUR SATU SAMA LAIN
Terdapat gelombang besar, arus kuat, dan gelombang pasang di Laut Tengah dan Samudra Atlantik. Air Laut Tengah memasuki Samudra Atlantik melalui selat Jibraltar. Namun suhu, kadar garam, dan kerapatan air laut di kedua tempat ini tidak berubah karena adanya penghalang yang memisahkan keduanya.
Salah satu di antara sekian sifat lautan yang baru-baru ini ditemukan adalah berkaitan dengan ayat Al Qur’an sebagai berikut:
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing.” (Al Qur’an, 55:19-20)
Sifat lautan yang saling bertemu, akan tetapi tidak bercampur satu sama lain ini telah ditemukan oleh para ahli kelautan baru-baru ini. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan “tegangan permukaan”, air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. (Davis, Richard A., Jr. 1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley Publishing, s. 92-93.)
Sisi menarik dari hal ini adalah bahwa pada masa ketika manusia tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai fisika, tegangan permukaan, ataupun ilmu kelautan, hal ini dinyatakan dalam Al Qur’an.
KEGELAPAN DAN GELOMBANG DI DASAR LAUTAN

Pengukuran yang dilakukan dengan teknologi masa kini berhasil mengungkapkan bahwa antara 3 hingga 30% sinar matahari dipantulkan oleh permukaan laut. Jadi, hampir semua tujuh warna yang menyusun spektrum sinar matahari diserap satu demi satu ketika menembus permukaan lautan hingga kedalaman 200 meter, kecuali sinar biru (lihat gambar di samping). Di bawah kedalaman 1000 meter, tidak dijumpai sinar apa pun. (lihat gambar atas). Fakta ilmiah ini telah disebutkan dalam ayat ke-40 surat An Nuur sekitar 1400 tahun yang lalu..
“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (Al Qur’an, 24:40)
Keadaan umum tentang lautan yang dalam dijelaskan dalam buku berjudul Oceans:
Kegelapan dalam lautan dan samudra yang dalam dijumpai pada kedalaman 200 meter atau lebih. Pada kedalaman ini, hampir tidak dijumpai cahaya. Di bawah kedalaman 1000 meter, tidak terdapat cahaya sama sekali. (Elder, Danny; and John Pernetta, 1991, Oceans, London, Mitchell Beazley Publishers, s. 27)
Kini, kita telah mengetahui tentang keadaan umum lautan tersebut, ciri-ciri makhluk hidup yang ada di dalamnya, kadar garamnya, serta jumlah air, luas permukaan dan kedalamannya. Kapal selam dan perangkat khusus yang dikembangkan menggunakan teknologi modern, memungkinkan para ilmuwan untuk mendapatkan informasi ini.
Manusia tak mampu menyelam pada kedalaman di bawah 40 meter tanpa bantuan peralatan khusus. Mereka tak mampu bertahan hidup di bagian samudra yang dalam nan gelap, seperti pada kedalaman 200 meter. Karena alasan inilah, para ilmuwan hanya baru-baru ini saja mampu menemukan informasi sangat rinci tersebut tentang kelautan. Namun, pernyataan “gelap gulita di lautan yang dalam” digunakan dalam surat An Nuur 1400 tahun lalu. Ini sudah pasti salah satu keajaiban Al Qur’an, sebab infomasi ini dinyatakan di saat belum ada perangkat yang memungkinkan manusia untuk menyelam di kedalaman samudra.
Selain itu, pernyataan di ayat ke-40 surat An Nuur “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan…” mengarahkan perhatian kita pada satu keajaiban Al Qur’an yang lain.
Para ilmuwan baru-baru ini menemukan keberadaan gelombang di dasar lautan, yang “terjadi pada pertemuan antara lapisan-lapisan air laut yang memiliki kerapatan atau massa jenis yang berbeda.” Gelombang yang dinamakan gelombang internal ini meliputi wilayah perairan di kedalaman lautan dan samudra dikarenakan pada kedalaman ini air laut memiliki massa jenis lebih tinggi dibanding lapisan air di atasnya. Gelombang internal memiliki sifat seperti gelombang permukaan. Gelombang ini dapat pecah, persis sebagaimana gelombang permukaan. Gelombang internal tidak dapat dilihat oleh mata manusia, tapi keberadaannya dapat dikenali dengan mempelajari suhu atau perubahan kadar garam di tempat-tempat tertentu. (Gross, M. Grant; 1993, Oceanography, a View of Earth, 6. edition, Englewood Cliffs, Prentice-Hall Inc., s. 205)
Pernyataan-pernyataan dalam Al Qur’an benar-benar bersesuaian dengan penjelasan di atas. Tanpa adanya penelitian, seseorang hanya mampu melihat gelombang di permukaan laut. Mustahil seseorang mampu mengamati keberadaan gelombang internal di dasar laut. Akan tetapi, dalam surat An Nuur, Allah mengarahkan perhatian kita pada jenis gelombang yang terdapat di kedalaman samudra. Sungguh, fakta yang baru saja diketemukan para ilmuwan ini memperlihatkan sekali lagi bahwa Al Qur’an adalah kalam Allah.
KADAR HUJAN
Fakta lain yang diberikan dalam Al Qur’an mengenai hujan adalah bahwa hujan diturunkan ke bumi dalam kadar tertentu. Hal ini disebutkan dalam Surat Az Zukhruf sebagai berikut;
“Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (Al Qur’an, 43:11)
Kadar dalam hujan ini pun sekali lagi telah ditemukan melalui penelitian modern. Diperkirakan dalam satu detik, sekitar 16 juta ton air menguap dari bumi. Angka ini menghasilkan 513 trilyun ton air per tahun. Angka ini ternyata sama dengan jumlah hujan yang jatuh ke bumi dalam satu tahun. Hal ini berarti air senantiasa berputar dalam suatu siklus yang seimbang menurut “ukuran atau kadar” tertentu. Kehidupan di bumi bergantung pada siklus air ini. Bahkan sekalipun manusia menggunakan semua teknologi yang ada di dunia ini, mereka tidak akan mampu membuat siklus seperti ini.

Per tahunnya, air hujan yang menguap dan turun kembali ke Bumi dalam bentuk hujan berjumlah “tetap”: yakni 513 triliun ton. Jumlah yang tetap ini dinyatakan dalam Al Qur’an dengan menggunakan istilah “menurunkan air dari langit menurut kadar”. Tetapnya jumlah ini sangatlah penting bagi keberlangsungan keseimbangan ekologi dan, tentu saja, kelangsungan kehidupan ini,..
Bahkan satu penyimpangan kecil saja dari jumlah ini akan segera mengakibatkan ketidakseimbangan ekologi yang mampu mengakhiri kehidupan di bumi. Namun, hal ini tidak pernah terjadi dan hujan senantiasa turun setiap tahun dalam jumlah yang benar-benar sama seperti dinyatakan dalam Al Qur’an.
PEMBENTUKAN HUJAN
Proses terbentuknya hujan masih merupakan misteri besar bagi orang-orang dalam waktu yang lama. Baru setelah radar cuaca ditemukan, bisa didapatkan tahap-tahap pembentukan hujan..
Pembentukan hujan berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, “bahan baku” hujan naik ke udara, lalu awan terbentuk. Akhirnya, curahan hujan terlihat.
Tahap-tahap ini ditetapkan dengan jelas dalam Al-Qur’an berabad-abad yang lalu, yang memberikan informasi yang tepat mengenai pembentukan hujan,
“Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira” (Al Qur’an, 30:48)

Gambar di atas memperlihatkan butiran-butiran air yang lepas ke udara. Ini adalah tahap pertama dalam proses pembentukan hujan. Setelah itu, butiran-butiran air dalam awan yang baru saja terbentuk akan melayang di udara untuk kemudian menebal, menjadi jenuh, dan turun sebagai hujan. Seluruh tahapan ini disebutkan dalam Al Qur’an.
Kini, mari kita amati tiga tahap yang disebutkan dalam ayat ini.
TAHAP KE-1: “Dialah Allah Yang mengirimkan angin…”
Gelembung-gelembung udara yang jumlahnya tak terhitung yang dibentuk dengan pembuihan di lautan, pecah terus-menerus dan menyebabkan partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini, yang kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas di atmosfir. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol, membentuk awan dengan mengumpulkan uap air di sekelilingnya, yang naik lagi dari laut, sebagai titik-titik kecil dengan mekanisme yang disebut “perangkap air”.
TAHAP KE-2: “…lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal…”
Awan-awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekeliling butir-butir garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena air hujan dalam hal ini sangat kecil (dengan diamter antara 0,01 dan 0,02 mm), awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi, langit ditutupi dengan awan-awan.
TAHAP KE-3: “…lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya…”
Partikel-partikel air yang mengelilingi butir-butir garam dan partikel -partikel debu itu mengental dan membentuk air hujan. Jadi, air hujan ini, yang menjadi lebih berat daripada udara, bertolak dari awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.
Semua tahap pembentukan hujan telah diceritakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu, tahap-tahap ini dijelaskan dengan urutan yang benar. Sebagaimana fenomena-fenomena alam lain di bumi, lagi-lagi Al-Qur’anlah yang menyediakan penjelasan yang paling benar mengenai fenomena ini dan juga telah mengumumkan fakta-fakta ini kepada orang-orang pada ribuan tahun sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan.
Dalam sebuah ayat, informasi tentang proses pembentukan hujan dijelaskan:
“Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan- gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (Al Qur’an, 24:43)
Para ilmuwan yang mempelajari jenis-jenis awan mendapatkan temuan yang mengejutkan berkenaan dengan proses pembentukan awan hujan. Terbentuknya awan hujan yang mengambil bentuk tertentu, terjadi melalui sistem dan tahapan tertentu pula. Tahap-tahap pembentukan kumulonimbus, sejenis awan hujan, adalah sebagai berikut:
TAHAP - 1, Pergerakan awan oleh angin: Awan-awan dibawa, dengan kata lain, ditiup oleh angin.
TAHAP - 2, Pembentukan awan yang lebih besar: Kemudian awan-awan kecil (awan kumulus) yang digerakkan angin, saling bergabung dan membentuk awan yang lebih besar.
TAHAP - 3, Pembentukan awan yang bertumpang tindih: Ketika awan-awan kecil saling bertemu dan bergabung membentuk awan yang lebih besar, gerakan udara vertikal ke atas terjadi di dalamnya meningkat. Gerakan udara vertikal ini lebih kuat di bagian tengah dibandingkan di bagian tepinya. Gerakan udara ini menyebabkan gumpalan awan tumbuh membesar secara vertikal, sehingga menyebabkan awan saling bertindih-tindih. Membesarnya awan secara vertikal ini menyebabkan gumpalan besar awan tersebut mencapai wilayah-wilayah atmosfir yang bersuhu lebih dingin, di mana butiran-butiran air dan es mulai terbentuk dan tumbuh semakin membesar. Ketika butiran air dan es ini telah menjadi berat sehingga tak lagi mampu ditopang oleh hembusan angin vertikal, mereka mulai lepas dari awan dan jatuh ke bawah sebagai hujan air, hujan es, dsb. (Anthes, Richard A.; John J. Cahir; Alistair B. Fraser; and Hans A. Panofsky, 1981, The Atmosphere, s. 269; Millers, Albert; and Jack C. Thompson, 1975, Elements of Meteorology, s. 141-142)
Kita harus ingat bahwa para ahli meteorologi hanya baru-baru ini saja mengetahui proses pembentukan awan hujan ini secara rinci, beserta bentuk dan fungsinya, dengan menggunakan peralatan mutakhir seperti pesawat terbang, satelit, komputer, dsb. Sungguh jelas bahwa Allah telah memberitahu kita suatu informasi yang tak mungkin dapat diketahui 1400 tahun yang lalu.
PERGERAKAN GUNUNG
Dalam sebuah ayat, kita diberitahu bahwa gunung-gunung tidaklah diam sebagaimana yang tampak, akan tetapi mereka terus-menerus bergerak.
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Qur’an, 27:88)
Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.
Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.
Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.
Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.
Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:
Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)
Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)
Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.